The Good Eaters are Us 

 

KISAH PERTEMUAN KAMI 

Orang bilang, dunia itu selebar daun kelor. Lalu, sejauh apapun kita menggembara, pasti akan bertemu orang yang itu-itu juga. Benarkah begitu?

In facts, kami (Chicca, Fany, Rizka) memang dipertemukan secara tidak sengaja. Rizka dan Chicca pada awalnya adalah teman satu kelas di sebuah sekolah menengah laboratorium di bilangan Jakarta. Zaman itu, ketika gangster menjadi sebuah trend, mereka pun mengikuti pola pergaulan dengan membentuk gank juga. Entah mengapa mereka berdua bisa tergabung ke dalam gank tersebut. Walaupun begitu, mereka berdua mempunyai kesamaan, yakni: heavy addiction dengan internet dan juru kunci* dalam setiap pelajaran.

Setelah lulus, kebetulan saja universitas yang mereka masuki tidak terlalu berjauhan. Chicca diterima di suatu Perguruan Teknologi Bandung, dan Rizka diterima di suatu Universitas Negeri Jatinangor. Disitulah hidup individualisme mereka dimulai.

Kehidupan akademis Rizka di sebuah daerah gersang kerontang dan jauh dari peradaban, ternyata mempertemukan dirinya dengan Fany. Kedekatan ini dimulai ketika Rizka yang seumur hidupnya belum pernah menyentuh bola bowling, diajak untuk bermain bowling. Mereka pun semakin dekat, walaupun dipisahkan oleh idealisme jurusan masing-masing.

Di pertengahan semester, Fany mencoba peruntungan hidup dengan magang di sebuah TV swasta Indonesia. Tanpa disangka, akhirnya Fany, si pemilik hamster yang bernama sama dengan restoran fastfood itu, bertemu dengan Chicca, si pemilik kelinci bertampang kanibal.

Nasib memang tidak pergi kemana-mana. Fany dan Chicca pun berteman. Tapi sayangnya, karena diperlakukan tidak senonoh tidak layak, Fany melarikan diri dari tempat magangnya. Beruntung, Chicca yang ditempatkan di bagian yang berbeda, tidak mengalami nasib yang sama.

Perkenalan ini, membangkitkan inisiatif Chicca untuk memperluas jalinan pertemanan. Pertemuan mereka bertiga dimulai dengan seringnya mengikuti pameran-pameran pendidikan. Walaupun indeks prestasi tidak begitu memuaskan, namun keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidaklah pupus.

Keseriusan ini semakin diperkuat dengan mengikuti kursus bahasa asing di sebuah institut terkemuka. Berawal dari anugerah rasa lapar yang diberikan Tuhan, setiap pulang kursus, mereka selalu menyempatkan diri untuk makan di luar. Lama-kelamaan, timbullah keinginan untuk icip-menyicip semua tempat makan di Bandung, sebelum mereka lulus.

Agar memori tidak cepat lupa dimakan waktu, maka dari itu mereka mencoba untuk menuliskan lagi pengalaman mereka disini, dan membaginya kepada kalian semua. :)

 

*juru kunci: adalah pemegang nilai terendah dalam ulangan.

Tata Letak & Isi: Goodeaters
Untuk Tampilan Terbaik Gunakan Mozilla Firefox