*
Besok, lusa, minggu, atau sebulan kemudian, mungkin Pakdhe tidak akan ada di warungnya.
Entah apakah tumpukan kayu dan pecahan genting yang ada di depannya masih bisa disebut warung?
Entah apakah pelanggan masih akan mencarinya?
Entah apakah semuanya akan berakhir baik?
Pakdhe tersentak dari lamunannya.
Barusan, Dhek’ Karyo, penjaga toko kelontong di samping warungnya dibopong keluar. Kontan, sang istri menangis dan menjerit.
Tenggorokan Pakdhe tercekat.
Ingin rasanya ia membuatkan sepiring Gudeg hangat untuknya.
Namun, jangankan memasak, untuk menggenggam tangan Budhe saja rasanya begitu berat…
———————————————————-
*cerita kecil ini adalah fiksi.
Turut berduka cita bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa di Yogyakarta (dan sekitarnya). Semoga diberi ketabahan dan lindungan-Nya. Amin.

cerita yang sedih, gambar yang tempting
Comment by pipit — May 27, 2006 @ 8:14 pm
Huuuuuuuuuhaaaa… salam kenal yooo… huuuuuhaaaaaa…
Comment by Mimin — May 28, 2006 @ 4:09 am
Btw, itu biar bisa post sendiri disini.. berarti harus nyoba2 tu makanan semua donk? Woww.. what a good eater!
Comment by mynameisnia — May 31, 2006 @ 9:36 am
bangkit! dan hayo mainkan lagu rock n roll … *bosen ama lagu ebiet atawa R.E.M. (everybody hurts)*
Comment by cupu — June 1, 2006 @ 1:33 am
tongkii, ternyata bisa juga bikin cerita mengharukan. hehehe. yupp, kita nyobain lah makanannya …trus kl ga gimana bikin reviewnya huehehehe.
turut berduka cita juga buat korban gempa jogja ni.
Comment by Fany — June 2, 2006 @ 4:23 pm